Langkah-langkah model KawanTumbuh

Berbagi Firman

Tuhan membagikan kisah-Nya, manusia berusaha memahaminya

Tuhan membuka diri dan menyatakan diri-Nya lewat tulisan yang difirmankan-Nya supaya kita bisa mengerti apa rencana-Nya bagi hidup kita. Tanggung jawab kita adalah belajar memahami apa maksud Tuhan dalam firman-Nya.

Langkah Berbagi Firman

Bacalah bagian ayat yang sudah ditentukan untuk pertemuan hari ini. Gunakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebagai panduan.

  • Bagian Firman ini berbicara tentang apa?
  • Apa yang saya pelajari tentang Allah Tritunggal: Allah Bapa, Tuhan Yesus atau Roh Kudus – “Saya belajar bahwa Allah/Yesus/Roh Kudus …..
  • Apa yang saya pelajari tentang Manusia (secara umum) – “Saya belajar bahwa manusia  …..”
  • Bagian mana (kata, ayat, cerita, ide) yang paling menarik perhatian saya
  • Firman Tuhan ini  berbicara apa kepada saya?  - “Saya merasa Allah ingin agar saya ….”

Sikap saat berbagi Firman

  • Baca berulang kali dengan motivasi ingin memahami apa yang dimaksud oleh bagian Firman.
  • Pusatkan pembacaan anda pada ayat dan kebenaran yang muncul dari Bagian Firman yang sedang dipelajari.
  • Tunjukkan ayat atau bagian Firman apa yang memperlihatkan kebenaran yang sedang anda temukan.
  • Hormatilah kebenaran yang ditemukan oleh orang lain, walaupun mungkin pemahamannya berbeda, atau bahkan anda merasa bahwa hal tersebut salah sama sekali.

Berbagi Kisah

Membagikan pengalaman hidup yang muncul saat berbagi firman

Renungkanlah: Apa yang muncul dalam ingatan dan perasaan anda ketika Berbagi Firman? Apakah ada perasaan khusus yang muncul? Adakah pengalaman dan kisah kehidupan yang muncul ketika kita menggali Firman? Berbagilah dengan kawan/pasangan tentang hal-hal seperti di bawah ini.

  • Kesaksian – cerita tentang kemenangan iman dan pertolongan Allah
  • Akuntabilitas – cerita tentang kegagalan iman dan kejatuhan
  • Pengalaman – peristiwa yang pernah terjadi yang diingatkan
  • Inspirasional – perenungan akan pengalaman hidup
  • Perasaan – perasaan yang muncul ketika menggali Firman Tuhan
  • Mimpi – kerinduan dan keinginan yang muncul di hati

Bergantian bercerita dan men-dengarkan antara anda dan kawan/pasangan.

Sikap saat berbagi Firman

  • Belajar untuk terbuka apa adanya tentang diri sendiri.
  • Belajar untuk menerima orang apa adanya.
  • Dibutuhkan hati yang mau menerima dan berempati dengan kawan/pasangan kita.

Berbagi Kebutuhan

Merumuskan kebutuhan, dan menceritakannya pada Tuhan lewat doa

Saling berbagi kebutuhan yang muncul setelah menggali firman dan berbagi kisah. Bergantian menyatakan kebutuhan kepada Allah, yang kemudian diteguhkan oleh kawan/pasangan kita.

Langkah Berbagi Kebutuhan

  • Bersama-sama membahas sebuah kebutuhan yang muncul setelah berbagi Firman dan Berbagi Kisah hidup.
  • Secara bergantian dan bersuara menyampaikan kebutuhan tersebut dalam doa
  • Mengambil waktu diam untuk memberi kesempatan kepada Tuhan menaruh kebenaran-Nya bagi kita
  • Secara bergantian mendoakan kawan/pasangan dan memberkati

Yang dilakukan ketika berdoa

  • Adakah dosa yang harus diakui? Berdoalah meminta pengampunan dan bertobat
  • Adakah luka dan perasaan negatif lainnya yang anda rasakan? Berdoa mengampuni orang yang anda rasa bersalah, dan lepaskan segala luka dan perasaan negatif yang anda rasakan
  • Adakah komitmen perubahan yang anda ambil? Berdoa menyatakan keputusan dan komitmen anda di hadapan Tuhan dan mohon penyertaan Tuhan yang memampukan anda melaksanakan.
  • Adakah pertanyaan atau keputusan yang perlu diambil? Berdoa bertanya kepada Tuhan dan harapkan jawaban
  • Adakah ikatan yang anda miliki yang perlu dibebaskan? Berdoa menyatakan kuasa Tuhan atas segala ikatan dan dosa serta kelemahan, dan mohon Tuhan menjadikan baru.

Sikap saat berbagi Kebutuhan

Doa akan semakin efektif jika:

  • Motivasinya adalah hubungan – dengan Allah dan sesama
  • Dinyatakan secara jelas dan spesifik, Memberikan kesempatan pada Allah untuk menjawab

Memahami pentingnya bercerita dalam model kawantumbuh

Komunitas Kawantumbuh adalah sekelompok orang yang berniat untuk bertumbuh bersama, dengan cara membangun kebiasaan baik, memperlengkapi dengan keterampilan hidup, dan mengalami perubahan cara pandang lewat kasih karunia Allah. Kami rindu untuk berbagi & bertumbuh bersama, karena kami percaya bahwa pertumbuhan yang sejati terjadi dalam komunitas – sekecil apapun komunitas itu. Satu hal yang ingin bagikan bersama adalah Cerita Hidup, karena kami melihat bahwa orang-orang hidup dengan membawa cerita mereka masing-masing, menceritakan cerita itu pada diri sendiri dan orang di sekitar, serta mendapatkan berbagai macam cerita dari sekeliling mereka. Disadari atau tidak, cerita mempengaruhi hidup orang – bahkan bisa ikut menentukan masa depan seseorang.  Namun belum tentu hal itu membawa kebaikan dan pertumbuhan bagi kita.

Cerita Seribu Satu Malam adalah sebuah sekumpulan dongeng yang diceritakan oleh Sheherazad, seorang wanita yang dinikahi oleh Maharaja Sharyar dari Persia, untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman mati. Sang Maharaja memiliki kebiasaan untuk menikahi seorang perawan dan mengeksekusinya keesokan hari. Ia melakukan itu karena marah akan permaisurinya yang selingkuh, dan merasa semua wanita seperti itu. Maka sang raja akan membunuh istri barunya, sebelum wanita itu sempat menyakiti hatinya. Hal itu telah berlangsung bertahun-tahun, sampai kemudian Sheherazad menawarkan diri untuk dinikahi raja. Sheherazad memikirkan cara agar bisa menyelamatkan nyawa gadis-gadis yang tidak berdosa. Caranya adalah dengan menceritakan sebuah cerita yang sangat menarik hati Maharaja. Kemudian Sheherazad akan menghentikan cerita, tepat pada bagian yang paling menarik. Karena penasaran, Maharaja bersedia menangguhkan hukuman mati agar bisa mendengarkan kelanjutan cerita di malam berikutnya. Hal ini berlangsung selama berhari-hari, bahkan sampai 1001 malam. Akhirnya raja pun terobati dari kemarahannya, mempercayai Sheherazad dan menghentikan kebiasaan menghukum mati.

Bercerita adalah sebuah cara memaparkan rentetan kejadian yang memiliki hubungan sebab akibat, umumnya dengan cara berbicara (verbal), namun juga dapat menggunakan visual, musik dan lagu, bahkan juga dengan gerak dan tari.  Peristiwa yang terjadi bisa merupakan kisah rekaan (fiksi) ataupun berdasarkan kisah nyata (non-fiksi). Seperti yang diperlihatkan Hikayat Seribu Satu Malam di atas, cerita memiliki pengaruh yang kuat. Cerita dapat melumpuhkan atau menggerakkan seseorang. Cerita mempengaruhi kejiwaan orang, merusak jiwa atau menyembuhkan. Cerita yang menarik akan dengan mudah membangkitkan emosi dan keinginan seseorang. Cerita juga mudah diingat dan dibagikan dari satu orang kepada orang lain, satu komunitas pada kelompok lain, bahkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Hal ini telah dilakukan manusia selama beribu-ribu tahun. Gambar-gambar yang dibuat manusia purba di dinding-dinding gua memperlihatkan keinginan  besar untuk menceritakan pengalaman hidup mereka. Suku-suku Indian dan bangsa-bangsa lainnya memiliki kebiasaan untuk berkumpul di sekeliling api unggun dan mendengarkan cerita. Bangsa Israel diperintahkan dalam Alkitab untuk menceritakan tentang pekerjaan Tuhan dari generasi ke generasi berikutnya.

Bercerita bukan sekedar kebiasaan unik manusia. Bercerita adalah sebuah kebutuhan yang sangat esensial bagi manusia. Sebagai mahluk sosial, kita butuh untuk memiliki hubungan yang dalam dengan sesama. Hubungan yang dalam akan tercipta ketika ada pemahaman yang mendalam satu sama lain. Cerita, yang begitu kuat mempengaruhi pikiran, perasaan dan kemauan, adalah cara yang berkhasiat untuk memahami satu sama lain. Cerita yang baik akan dengan mudah menghubungkan pribadi dengan sesama dan dengan komunitas. Cerita lebih mudah ditangkap, diingat dan dibagikan kembali. Tradisi, nilai hidup dan budaya dapat ditularkan dan diturunkan lewat cerita. Cerita yang baik juga dapat menginsiprasi dan menggerakkan orang untuk melakukan hal-hal yang baik dan membangun. Cerita yang baik memiliki kemampuan untuk memajukan kemanusiaan.

Hidup manusia pun sejatinya adalah sebuah cerita, karena terdiri dari rentetan kejadian yang memiliki hubungan sebab akibat. Kita yang ada saat ini adalah hasil dari serangkaian keputusan  yang diambil, baik oleh kita maupun orang lain, dengan segala konsekuensinya. Dan selama kita masih bernafas, hidup adalah sebuah cerita yang masih terus disusun – menjadi sebuah Cerita Hidup yang unik dari setiap orang. Menjadi cerita yang dapat menghibur, menghubungkan, menginspirasi dan menggerakkan orang-orang di sekitar kita ke arah yang lebih baik. Atau sebaliknya.

Bagi orang percaya, setiap cerita hidup itu  tidaklah dimulai dan berakhir di tangan manusia. Setiap cerita hidup merupakan sebuah bagian dari Cerita Agung yang sedang dirangkai oleh Sang Pencipta. Cerita Agung ini bukanlah sekedar sebuah kisah acak dengan alur yang berjalan tanpa tujuan, melainkan sebuah Cerita yang telah disusun dengan tujuan-tujuan yang dikehendaki oleh Allah Pencipta. Cerita Agung ini keluar dari kasih dan kebaikan Allah, dan dirancang untuk membawa kebaikan bagi seluruh alam ciptaan. Inilah masterplan Allah, Grand Simfoni Sang Pencipta. Namun ada kerumitan tertentu. Allah yang Maha Kasih dan Maha Bijak memberikan kehendak bebas kepada manusia bagaimana ia akan mengisi bagiannya dalam Cerita Agung tersebut. Manusia dapat memilih untuk terlibat secara positif maupun negatif dalam Cerita itu. Dan faktanya, sejak manusia pertama, manusia lebih sering memberontak dan berpartisipasi secara negatif dalam Rencana Agung Allah.

Akibatnya banyak Cerita Hidup manusia adalah cerita yang sumbang. Banyak orang yang menghabiskan hidup dengan cerita-cerita yang kurang bermakna – hanya sekedar cerita yang tidak penting dan tak membawa dampak. Beberapa menyusun cerita hidupnya dengan usaha yang kuat, dan sebenarnya menjadi inspirasi buat sesamanya, namun sebenarnya tidak memberi sumbangan yang positif bagi Cerita Agung Allah. Banyak juga yang melihat hidupnya sebagai rentetan kegagalan dan kekerdilan, dan berulang-ulang menceritakan cerita gagal itu pada diri sendiri dan orang lain. Tentunya bukan itu yang dikehendaki Allah. Kita adalah puisi mahakarya Allah yang diciptakan dalam tujuan-tujuan kekal Allah, dan Ia mau kita hidup di dalam dan menampilkan tujuan kekal itu (Efesus 2:10).

Setiap orang hidup sebagai sebuah cerita yang unik, dengan nilai, tujuan dan pola pikirnya masing-masing. Kita juga membawa warisan cerita yang telah ditanamkan pada kita, dalam bentuk tradisi, kebudayaan dan kebiasaan kita. Kita juga dibombardir dengan cerita-cerita yang dikumandangkan oleh berbagai macam aliran dan kepentingan. Agama, politik, media, dunia hiburan dan lingkungan di mana kita tinggal menawarkan cerita mereka masing-masing. Beberapa dengan cara yang mudah dilihat dan dinilai, lainnya masuk ke dalam kesadaran kita dengan cara-cara yang laten dan halus. Kita pun terbiasa untuk mengumandangkan cerita kita sendiri, mungkin lewat gosip, curhat, ekspresi seni, pekerjaan dan pelayanan kita. Sebagian besar cerita yang sedang beredar ini sebenarnya adalah cerita yang bersaingan atau bahkan bertentangan dengan Cerita Agung Allah. Namun karena cerita-cerita itu menarik dan memikat hati, sering kita tidak sadar sedang terpengaruh, bahkan menghidupi dan membagikan cerita yang asing dengan rencana Allah. Artinya kita belum atau tidak terlibat secara positif dalam Rencana Agung Allah.

Bagaimana kita menyikapinya? Bagaimana kita dapat meyakinkan orang di sekeliling kita akan sebuah Cerita yang Sejati? Bagaimana agar Cerita Agung Allah dapat tercermin, cepat atau lambat, dalam hidup kita, yang kemudian akan menjadi sumber cerita yang baik bagi orang-orang di sekeliling kita? Dengan cara menawarkan dan menceritakan Cerita Agung itu lewat hidup kita, baik lewat kata-kata maupun perbuatan. Kita adalah surat terbuka yang dapat dibaca oleh orang di sekeliling kita, baik dalam kegagalan maupun keberhasilan kita. Kita mengijinkan Rencana Allah berproses dalam hidup kita, selangkah demi selangkah. Dan setiap proses itu bisa menjadi sumber cerita yang dapat dinikmati dan menginspirasi orang-orang di sekitar kita.

Jelas cerita merupakan sebuah aspek penting dalam hidup manusia. Bercerita merupakan alat komunikasi yang powerful untuk mengubah hidup orang dan komunitas. Jika dapat memanfaatkan cerita dengan baik dan benar, maka kita dapat menolong orang dan komunitas untuk bertumbuh dengan cara yang natural, tanpa perlu mendominasi, mengintimidasi ataupun memanipulasi. Untuk itu kita perlu merumuskan cara-cara yang dapat menolong orang untuk bercerita dengan baik dan benar, dan mengalami pertumbuhan yang sehat sebagai dampak dari bercerita tersebut. Bagaimana caranya?

Sebuah model pembelajaran yang sedang dikembangkan mencoba menjawab pertanyaan ini. Dalam model ini kita menyediakan ruang, waktu, hati dan tenaga untuk bertumbuh bersama-sama dengan cara melibatkan Tuhan dan sesama dalam proses itu. Cerita menjadi keterampilan utama yang perlu dimiliki, yang dilakukan dalam tiga tahap:

  • Tuhan bercerita, dan kita belajar memahaminya. Banyak orang yang memandang Firman Tuhan sebagai serangkaian perintah yang harus dikerjakan dan aturan untuk ditaati. Namun sebenarnya Firman Tuhan adalah serangkaian Cerita tentang Tuhan, yang Ia bagikan agar manusia dapat memahami Rencana & Kehendak-Nya – history is HIS story. Bagian kita adalah memahami Cerita itu dan mengijinkan-Nya mengubah hidup kita.
  • Kita saling bercerita dan membagikan hidup berdasarkan tanggapan kita akan Firman yang baru dipelajari. Banyak dari kita sudah terbiasa untuk berbagi, bercerita dan bersaksi. Disini, kita mengijinkan Roh Kudus dan Firman membangkitkan apa yang perlu kita bagikan pada komunitas.Cerita yang kita bagikan akan menolong kita untuk saling memahami, baik orang lain maupun diri sendiri, dan mengeratkan komunitas.
  • Kita merumuskan kebutuhan apa yang muncul saat belajar Firman dan berbagi cerita, dan menceritakannya pada Tuhan lewat doa permohonan dan syukur. Kebutuhan itu bisa berupa pemulihan dari hal-hal di masa lampau, ataupun perubahan hidup untuk masa-masa mendatang. Kita rindu agar kebutuhan yang diutarakan dalam komunitas itu akan dijawab Tuhan dalam cara & waktu-Nya – yang akan menjadi Cerita Hidup yang baru yang memuliakan Tuhan.

Mengevaluasi Program & Proses Pertumbuhan #1 – dengan model 4I

Ada beberapa lensa/cara pandang yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi sebuah program ataupun kurikulum. Kami di komunitas kawantumbuh menggunakan model 4I untuk mengevaluasi sebuah proses pertumbuhan. Yang dinilai dalam model 4I adalah proses pertumbuhan dan bukannya hasil pertumbuhan itu sendiri. 4I terdiri Intention (Kehendak yang jelas), Involvement (Keterlibatan Tuhan, sesama dan diri sendiri), Implementation (Praktek mempelajari atau meningkatkan kualitas keterampilan) dan Interaction (Perubahan lewat interaksi). Kami mengasumsikan bahwa ketika sebuah proses pertumbuhan memiliki 4I dengan kualitas yang baik, maka hasil pertumbuhanpun akan baik.

Bagi anda yang sedang merancang sebuah program untuk menolong orang bertumbuh, atau anda sedang berada di dalam sebuah proses pertumbuhan tertentu, beberapa pernyataan di bawah ini bisa digunakan sebagai indikator proses pertumbuhan.

  1. Intention – kehendak yang jelas
    • menolong orang untuk memiliki tujuan yang jelas dalam pertumbuhannya, apakah itu tujuan jangka pendek maupun jangka panjang
    • menolong orang untuk memiliki kehendak yang jelas apa yang ia inginkan terjadi dalam kehidupannya, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang?
    • meningkatkan pengharapan orang bahwa ia dapat memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik?
    • menolong orang untuk memiliki komitmen yang jelas apa yang akan ia lakukan dan harga yang harus dibayar?
  2. Involvement – Keterlibatan
    • mendorong orang untuk melibatkan Pribadi Yang Maha Besar dalam proses pertumbuhan
    • mendorong orang untuk mengundang orang lain terlibat dalam proses pertumbuhannya
    • mendorong orang untuk mau terlibat dalam proses pertumbuhan orang lain
    • menolong orang agar melibatkan seluruh aspek hidupnya (kognitif, afektif, motorik, dan kecenderungan/nilai) dalam proses pertumbuhan
  3. Implementation – Praktek
    • Menolong orang untuk membuat struktur, sistem dan langkah-langkah yang menolong dalam proses pertumbuhan – misalnya merancang ‘baby step’ untuk memiliki kebiasaan baik yang baru
    • mengajarkan keterampilan yang baru – terutama yang berhubungan dengan ketahanan hidup seseorang
      • keterampilan fisik/motorik
      • keterampilan intelektual/kognitif
      • keterampilan mental/emosi
      • keterampilan sosial
      • keterampilan jiwa/spiritual
    • melatih dan mengembangkan keterampilan yang sudah ada
  4. Interaction – Perubahan lewat interaksi
    • melakukan refleksi dan mendapatkan umpan balik dari proses kehendak, keterlibatan dan praktek yang telah dilakukan
    • mengenali apa yang sudah berhasil, dan apa yang perlu ditingkatkan
    • meningkatkan pemahaman lewat interaksi dalam hubungan dan pengalaman hidup
    • melakukan perubahan untuk hal-hal yang membutuhkan peningkatan

Daftar ini masih jauh dari sempurna. Namun jika anda sedang merancang atau menilai sebuah program atau proses pertumbuhan, anda bisa menggunakan daftar ini sebagai pertanyaan refleksi untuk mengukur sebuah proses pertumbuhan. Misalnya jika anda sedang merancang sebuah program workshop, anda bisa bertanya ‘keterampilan sosial apa saja yang saya ajarkan/latih melalui workshop ini’, atau ‘apakah setelah workshop ini peserta memiliki niat dan kehendak yang jelas tentang apa yang ia ingin lakukan atau ingin terjadi dalam hidupnya’ dll.

Artikel yang berhubungan:

Growth Manifesto of Kawantumbuh Community (Growingfriends Community)

Kawantumbuh Community (Growingfriends Community) is a group of people that commited to grow together and help other communities grow in grace of God.

These are principles that govern our vision and process:

  • we will integrate grace in all areas of life & ministry
  • we will base our vision & process of growth in our new identity in Christ
  • we will have a clear & focused goal in our current season of life
  • we will involve  Triune God, others and our integrated self in our growth process
  • we will acquire & repeat new skills in a structured steps
  • we will let experience & relations influence our journey of growth in positive ways
  • we will communicate positive language of healing & growth
  • we will create & nurture teaching & learning atmosphere
  • we will bring healing to hurt people & communities
  • we will improve our quality of relation
  • we will integrate all our knowledge & skill in all areas of life
  • we will nurture relation as the foundation of growth process
  • we will learn to understand our needs & others in the growth process
  • we will learn to help & accomodate our needs & others
  • we will use positive feedback to improve our growth journey

Our service:

Komunikasi yang memulihkan (Healing Communications) – 5 part module

Doa yang memulihkan (Healing Prayer) – 5 part module

Jalin Hati (Heart Relations) – 5 part module

Pemulihan Sahabat (Peer Healing Ministry) – 5 part module

PA Kawantumbuh (Growingfriends Bible Study) – 4 part module

Show Loyalti – Tunjukkan Kesetiaanmu… (Seri Membangun Rasa Aman & Percaya)

Show Loyalti - Tunjukkan Kesetiaanmu... (Seri Membangun Rasa Aman & Percaya)

Apakah anda ingin memiliki hubungan yang kuat, yang dilandasi rasa aman dan percaya satu sama lain? Caranya adalah dengan menunjukkan kesetiaan dalam hubungan. Setia berarti berpegang teguh, berketetapan hati untuk meneruskan suatu hubungan, apapun yang terjadi. Ketika kita setia pada seseorang, itu berarti kita menganggap orang tersebut penting dan berharga. Ketika kita menunjukkan kesetiaan itu, berarti kita sedang mempercayai orang tersebut. Menganggap seseorang penting dan mempercayainya adalah hal-hal yang akan memperkuat hubungan, membuat orang percaya, dan itu terjadi ketika kita setia…

 

“I may be stupid, as you say, to believe in honour and friendship and loyalty without price. But these are virtues to be cherished, for without them we are no more than beasts roaming the land.” 
― David GemmellShield of Thunder

just remember who was on your side when everyone else left – anonim

Keep Promise – Tepati Janji… (Seri Membangun Rasa Aman & Percaya)

Keep Promise - Tepati Janji... (Seri Membangun Rasa Aman & Percaya)

Apakah anda ingin memiliki hubungan yang kuat yang didasari rasa percaya satu sama lain? Caranya adalah selalu tepati janjimu. Menepati janji adalah suatu ekspresi komitmen yang kuat. Memenuhi janji adalah satu bentuk konsistensi. Berjanji dan melaksanakannya adalah gambaran integritas karaktermu. Dan kebiasaan ini akan menjadi sebuah dasar yang teguh dalam sebuah hubungan, karena akan meningkatkan rasa aman dan pemahaman orang tentang dirimu. Janji yang ditepati adalah perekat hubungan yang sangat kuat. Sebaliknya, janji yang dilanggar akan menjadi duri dan perusak hubungan…

Promises are the uniquely human way of ordering the future, making it predictable and reliable to the extent that this is humanly possible. ~Hannah Arendt

Losers make promises they often break. Winners make commitments they always keep. ~Denis Waitley

Promise only what you can deliver. Then deliver more than you promise. ~Author Unknown

01 Be Predictable… (Seri Membangun Rasa Percaya)

01 Be Predictable... (Seri Membangun Rasa Percaya)

Jadilah orang yang dapat diprediksi. Banyak orang menginginkan kejutan dan spontanitas, tetapi hubungan yang terkuat adalah hubungan yang stabil. Penting bagi kita untuk membangun serangkaian rutinitas dan kebiasaan, karena hal ini akan membangun kepercayaan – walau harus diakui, mungkin kedengarannya agak membosankan. Menampilkan hidup bagai teka-teki yang rumit justru membutuhkan banyak waktu dan kerja. Namun agar anda dapat meningkatkan keakraban dan keamanan, buatlah supaya pasangan Anda dapat memprediksi apa yang akan anda lakukan…

Berbagi dan Menjadi Cerita (Mazmur 78:1-8)

Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala. Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah. (Mazmur 78:1-8)

Berbagi cerita adalah suatu bentuk komunikasi manusia yang paling mendasar, yang membedakan manusia dengan makhuk hidup lainnya. Apa itu cerita? Cerita adalah serangkaian peristiwa yang memiliki alur – awal, tengah dan akhir. Bercerita adalah cara kita menghubungkan peristiwa tersebut dan menyajikannya dalam sebuah alur yang memiliki hubungan sebab akibat, contohnya: peristiwa A mengakibatkan kejadian B, mengakibatkan keputusan C dst. Seperti kegiatan anak-anak menghubungkan titik dan menghasilkan gambar, bercerita juga menghubungkan beberapa bagian menjadi sebuah gambar besar yang dapat dimengerti dan dinikmati orang.

Manusia memiliki kebutuhan yang besar untuk berbagi cerita. Mengapa? Karena kita adalah makhluk sosial, yang membutuhkan hubungan dengan sesama. Hubungan yang baik membutuhkan pengenalan dan pemahaman satu sama lain. Bercerita menjadi alat komunikasi yang kuat untuk menghubungkan satu sama lain, karena bercerita memiliki kelebihan dibanding metode komunikasi yang lain. Kekuatan cerita adalah kemampuannya untuk menyajikan lebih dari sekedar informasi. Cerita yang baik memunculkan emosi, yang dapat menarik minat pendengarnya, ketika cerita itu diperdengarkan. Pendengar diajak masuk dalam cerita itu yang memunculkan empati. Cerita yang baik juga akan menampilkan nilai-nilai inti dan budaya, yang dibagikan tanpa pendengar merasa digurui atau diceramahi, namun justru lebih mudah untuk diingat dalam jangka panjang.

Cerita juga memiliki kemampuan untuk menghubungkan orang. Lewat emosi dan perenungan yang dimunculkan, pendengar diajak untuk menghubungkan cerita, diri sendiri dan kehidupannya yang lebih luas. Lewat interaksi yang terjadi saat berbagi cerita, terjalin hubungan antara pencerita dan pendengar, bahkan juga antara sesama pendengar. Kita bisa membayangkan interaksi yang terjadi saat pegelaran wayang ataupun ketoprak, yang bisa mengeratkan sebuah komunitas yang menikmati sebuah cerita yang sama.

Tidaklah heran, dengan kelebihan seperti ini berbagi cerita telah menjadi sebuah alat komunikasi yang powerful untuk mengikat bahkan menggerakkan komunitas, bahkan melintasi budaya dan generasi. Selama bergenerasi-bergenerasi manusia berkumpul dengan sesamanya untuk berbagi cerita, dengan kawan, keluarga dan suku. Sebelum teknologi muncul yang menjadi hiburan orang banyak adalah berbicara satu sama lain, mungkin dalam kumpulan jemaah seperti cerita di Alkitab, atau mungkin disekeliling api unggun, bagi orang-orang Indian, atau ketika para wanita mencuci bersama di sungai. Ketika orang berkumpul, cerita dibagikan – itulah cara kita berhubungan dengan sesama selama beribu-ribu tahun.

Mazmur ini dimulai dengan panggilan  untuk mendengarkan apa yang hendak dikumandangkan oleh pemazmur. Yang hendak dibagikan adalah ucapan berupa amsal dan teka teki, yang merupakan warisan dari jaman dahulu. Cerita ini telah diturunkan dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya, dan adalah kewajiban pemazmur untuk membagikannya kembali kepada generasi di bawahnya. Dan yang terutama hendak dibagikan adalah puji-pujian kepada Tuhan, yang bekerja dalam kekuatan dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib.

Inilah yang menjadi misi dari pemazmur. Ia  telah mendapatkan warisan berupa tradisi tentang peraturan-peraturan yang datang dari Allah sendiri. Peraturan Allah ini adalah jalan menuju kehidupan yang sejahtera, karena peraturan ini diberikan oleh Pencipta Alam Semesta, yang menyatakan bagaimana supaya hidup sesuai dengan desain dan rancangan Allah sendiri. Bagian kita sebagai manusia adalah menaruh kepercayaan pada Allah, mengingat dan merayakan pengalaman dengan Allah, memegang perintahnya dan memiliki hati yang tetap dan setia kepada Allah. Dan bagaimana hal itu bisa tercapai? Dengan cara membagikan peraturan dan kesaksian tentang Allah lewat cerita, seperti yang kemudian dilakukan oleh pemazmur dalam ayat-ayat selanjutnya.

Allah yang merancang manusia memahami betapa kuatnya pengaruh bercerita, dan memerintahkan kita untuk melakukannya agar peraturan dan kesaksian tentang Allah dapat dibagikan kepada kalangan yang lebih luas, lintas budaya dan lintas generasi. Ini adalah panggilan bagi kita manusia untuk belajar bercerita, dan menjadikannya sebagai alat untuk mengkomunikasikan tentang kesetiaan dan kebaikan Allah. Ketika cerita itu merupakan cerita yang memiliki tema yang baik, kita bisa belajar untuk meneladani apa yang terjadi dalam cerita tersebut. Sebaliknya jika cerita itu bernada tidak baik, karena berisi kegagalan dan kelemahan, kita juga tetap bisa belajar untuk tidak melakukan apa yang terjadi dalam cerita tersebut. Kita belajar lewat cerita, dan mengajarkan lewat cerita juga.

Hidup sebagai sebuah cerita

Jika cerita adalah serangkaian peristiwa yang terjadi dan memiliki sifat sebab akibat, maka kita bisa melihat kehidupan kita pun sebagai sebuah cerita. Bagi orang percaya, hidup kita adalah sebuah cerita yang sedang dituliskan bersama Allah. Allah adalah Pengarang Cerita Agung yang berisi rencana-Nya bagi alam ciptaan. Ketika ia menciptakan manusia, dalam anugerah-Nya Allah mengajak kita untuk berpartisipasi dalam bagaimana Cerita Agung itu dituliskan. Tentu saja karena Allah begitu berkuasa, Ia bisa memastikan bagaimana Cerita Agung ini akan berakhir, dan pastilah baik bagi ciptaan-Nya, termasuk manusia. Namun bagaimana fragmen-fragmen itu terungkap, kita baru bisa melihatnya ketika membaca Alkitab sebagai His Story (Kisah-Nya). Dan bagaimana peran kita dalam Cerita Agung itu pun sering menjadi misteri bagi kita yang melewatinya.

Jika hidup kita adalah sebuah cerita, bagian dari Cerita Agung Allah, adalah pilihan kita bagaimana cerita itu akan ditulis dan dibagikan kepada orang lain. Orang percaya mendapat jaminan akhir cerita seperti apa yang akan dialami, namun bagaimana pertengahan cerita itu akan diisi, adalah pilihan yang akan kita ambil tiap-tiap hari. Akan cerita hidup kita menggambarkan Allah yang perkasa dan kuat seperti yang diceritakan pemazmur? Ataukah akan menjadi teladan buruk yang harus dijauhi bagi generasi selanjutnya? Selama kita masih hidup, masih ada pilihan mengisi cerita itu. Dan karena cerita ini masih berlanjut, sebagus atau seburuk apapun kondisi cerita hidup kita saat ini, masih ada peluang untuk mengisinya dengan lebih baik lagi.

Mazmur 78 adalah panggilan bagi kita untuk menjadi pencerita akan kehebatan kuasa dan kasih Allah bagi orang lain. Kita bisa menggunakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu sebagai bahan cerita, atau kita juga bisa memperlihatkannya dengan kehidupan kita saat ini. Apapun cerita yang kita ambil, harapannya adalah membawa orang untuk memuliakan Allah, Sang Pencerita Agung.

Jadilah dan Bagikanlah cerita yang baik!

Bertumbuh bersama dalam komunitas – Prinsip-prinsip penting dalam bertumbuh

Pertumbuhan adalah ciri makhluk hidup. Manusia perlu bertumbuh dalam semua aspek kehidupan: fisik, sosial, emosional & spiritual. Namun pertumbuhan rohani memiliki nilai yang berbeda, karena  bagi orang percaya kehidupan sejati dimulai saat hubungan dengan Allah terjalin kembali lewat Yesus Kristus. Yang menjadi menjadi tujuan utama pertumbuhan itu adalah pengenalan akan Allah dan keserupaan akan Kristus.
Pertumbuhan orang percaya adalah sesuatu hal yang telah dijamin. Allah sudah mengusahakan segala sesuatu agar kita bertumbuh dan menghasilkan buah yang berkualitas. Namun manusia masih memiliki kehendak bebas untuk mengikuti rencana Allah atau sebaliknya. Pertumbuhan yang sehat terjadi ketika kita mengambil keputusan untuk hidup dalam kesatuan dengan Allah, dan mengijinkan Allah mengelola pertumbuhan kita dalam cara dan waktu-Nya.
Meskipun Allah-lah sumber, pemelihara dan tujuan pertumbuhan, namun Ia mengajak manusia untuk terlibat dalam pertumbuhan sesamanya. Orang-orang seperti Paulus, Apolos dan lainnya secara sengaja terlibat untuk menolong orang lain bertumbuh. Bahkan Paulus katakan itulah hal yang dengan sangat kuat ia kerjakan, yaitu untuk menolong orang mengalami pertumbuhan ke arah Kristus. Inilah komunitas orang percaya yang saling terjalin dan terikat satu sama lain untuk bersama-sama bertumbuh menuju keserupaan dengan Kristus. 
Pertumbuhan bersumber dari Allah, namun kita manusia bertanggung jawab untuk memiliki sikap dan memberikan tanggapan yang akan mendukung kita untuk bertumbuh lebih. Karena kita bisa memilih apa tanggapan kita, maka kita perlu memiliki kehendak yang jelas dalam hubungannya dengan pertumbuhan. Kita perlu merumuskan apa yang kita inginkan terjadi, dan juga berkomitmen untuk membayar harga mendapatkan apa yang kita cari. 
Komitmen yang sangat penting adalah dengan sengaja melibatkan Tuhan dan sesama dalam proses pertumbuhan. Kita perlu mengambil sikap untuk melepaskan cara dan pemikiran kita tentang pertumbuhan, berserah dan mempercayai Allah sebagai sumber pertumbuhan. Kita juga perlu dengan sengaja mengundang orang lain untuk terlibat dalam pertumbuhan kita. Caranya bisa dengan memberi masukan/nasihat, menjadi teman pertanggungjawaban, menjadi mitra doa, tempat curhat dll. Kita pun perlu dan memiliki tanggung jawab untuk terlibat dalam pertumbuhan orang lain.