Kesejahteraan 02.1 Tanda-tanda keluarga yang Disfungsi

on


A Pemahaman tentang keluarga yang disfungsi

Keluarga yang disfungsi adalah sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan tanggung jawabnya sesuai dengan kehendak Allah. Mereka sedang berfungsi dengan tidak sehat dalam melakukan apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan keluarga. Keluarga yang disfungsi akan memiliki kecenderungan umum seperti ini:

Pertama, memiliki satu atau lebih anggota keluarga yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Disfungsi seara pribadi ini kemudian menular karena anggota keluarga yang lain harus melakukan metode atau peran tertentu untuk menggantikan peran yang gagal tadi. Disfungsi pribadi tersebut bisa berupa masalah dalam kecanduan, kedewasaan pribadi ataupun sakit-penyakit.
Kedua, biasanya keluarga ini akan bergantung pada suatu metode dan strategi yang tidak sehat. Metode dan strategi ini sebenarnya tidak efektif, tidak benar, atau bahkan cenderung merusak, yang dibutuhkan pada satu masa. Namun kemudian metode ini diteruskan dan menjadi pola, bahkan diulangi terus sehingga menjadi suatu system yang tidak sehat. Dan setelah beberapa lama, fungsi dari system tersebut dianggap sebagai hal yang benar, dan menjadi lebih penting daripada kualitasnya.
Ketiga, Kemudian hubungan antara anggota keluarga pun cenderung tegang, dan ada kesulitan untuk mengembangkan komunikasi dan hubungan yang intim antar anggota keluarga.
Keempat, dalam banyak kasus, keluarga yang disfungsi akan memainkan peran untuk memperlihatkan citra sebagai keluarga yang sehat. Dalam hal ini, sering ada banyak rahasia ataupun kelemahan-kelemahan yang harus ditutupi ataupun dicari kompensasinya dalam bentuk yang lain.

Karena masing-masing angota belum pernah mengalami kehidupan keluarga yang normal, seringkali anggota-anggota keluarga yang disfungsi menganggap keluarga mereka normal atau ”biasa”, dan tidak tahu atau tidak memiliki pengalaman bagaimana berada dalam keluarga yang cenderung sehat.

Contoh kasus:
Misalkan ada seorang kepala keluarga, yang karena satu hal mengalami PHK, dan untuk sementara kemudian perekonomian keluarga ditanggung oleh ibu. Namun karena ada ketidakdewasaan dalam diri ayah, kemudian kondisi ini berlanjut terus. Ayah mungkin sudah mencari kerja namun tidak puas atau kemudian dikeluarkan. Tanggungjawab ibu kemudian semakin berkembang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kemudian ibu menjadi sangat dominan dalam banyak aspek keluarga yang lain.

Dalam keluarga yang disfungsi ini, satu atau beberapa aspek dalam keluarga akan menjadi terganggu, yaitu aspek:

  • keintiman: bagaimana menyatakan kasih
  • komunikasi: bagaimana cara berinteraksi
  • peran: bagaimana anggota keluarga berfungsi
  • aturan: apa yang boleh dan tidak boleh dalam keluarga
  • prioritas: apa yang menjadi hal yang berharga
  • pemecahan masalah: bagaimana mengelola konflik dan mengambil keputusan

B Aspek-aspek yang biasanya akan disfungsi dalam sebuah keluarga

Ada 6 aspek penting yang seharusnya berfungsi dengan baik dalam sebuah keluarga.

1.    Keintiman: Bagaimana menyatakan Kasih
•    Seberapa besar kasih di dalam keluarga
•    Bagaimana menyatakan kasih
•    Bagaimana mempertahankan keintiman
Dalam sebuah keluarga yang disfungsi, cara-cara menyatakan kasih dan mempertahankan keintiman akan dilakukan dengan tidak sehat. Orang tua sangat mengasihi anak, namun dilakukan dengan cara yang sangat menuntut, bersyarat, atau bahkan cenderung manipulative. Dalam keluarga disfungsi yang lain, kasih tidak pernah dinyatakan, hubungan satu sama lain cenderung dingin atau penuh konflik.

2.    Komunikasi: Bagaimana cara berinteraksi
•    Bagaimana cara  menyatakan pendapat
•    Bagaimana cara  mendengarkan dan memperhatikan
•    Bagaimana mengelola emosi
Keluarga yang disfungsi cenderung kaku dalam cara-car berkomunikasi. Sering komunikasi berlangsung satu arah. Pendapat anggota keluarga tidak diperhatikan. Emosi dan kemarahan diekspresikan dengan cara yang manipulative atau menakutkan. Komunikasi tidak terjalin dengan baik.

3.    Peran: Bagaimana anggota berfungsi untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan bersama
•    Bagaimana cara menempatkan diri dalam keluarga: secara budaya, emosi, atau alkitabiah
•    Apa hak dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga
Anggota keluarga tidak melakukan perannya dengan maksimal. Mungkin ayah tidak berlaku seperti ayah. Ibu tidak berlaku seperti ibu. Anakpun tidak berlaku seperti anak. Ada anggota keluarga yang tidak bertanggung jawab. Atau ada anggota keluarga yang lain yang diberi tanggung jawab yang berlebihan.

4.    Aturan: Bagaimana membatasi apa yang boleh dan tidak
•    Apa saja aturannya: nyata dan tersembunyi
•    Seberapa keras diterapkan
•    Seberapa fleksibel: bisa berubah ketika situasi berubah
•    Hukuman dan hadiah: apa yang diberikan ketika taat/tidak taat
Keluarga yang disfungsi cenderung kaku dalam memberikan aturan. Juga sering tidak jelas dan tidak konsisten dalam memberi aturan. Dalam keluarga yang lain cenderung permisif, dan tidak ada aturan jelas sama sekali. Yang sering terjadi juga pemberian hukuman atau hadiah yang sering ekstrim.

5.    Prioritas: Bagaimana mengurutkan hal-hal yang penting
•    Tujuan-tujuan keluarga
•    Apa yang dicari oleh tiap anggota
•    Nilai-nilai inti keluarga
•    Apa yang berharga bagi tiap anggota
Keluarga yang disfungsi biasanya hanya menghargai tujuan yang diterapkan satu anggota keluarga dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan yang anggota keluarga yang lain. Mereka memiliki nilai-nilai yang cenderung mengabaikan kebenaran Tuhan, walaupun bisa dibungkus dengan bahasa-bahasa yang kedengaran rohani. Keluarga tidak memiliki tujuan bersama yang mengikat seluruh anggota keluarga dan member keuntungan bagi seluruh keluarga. Sering ada perbedaan antara nilai yang dikatakan dan tindakan yang dilakukan.

6.    Pemecahan Masalah/Pengambilan Keputusan
•    Apa yang dilakukan ketika terjadi konflik, krisis ataupun mengalami masalah
•    Bagaimana cara keluarga mengambil keputusan: Dominasi/Kontrol?, Otoriter?, Permisif?, demokratis?
•    Adakah yang menjadi kambing hitam?
Keluarga yang disfungsi cenderung kaku dalam memecahkan masalah. Mungkin mereka memiliki system yang pernah dianggap berhasil, dan kemudian diteruskan walaupun itu merusak. Sering ada anggota keluarga yang akan dianggap sebagai kambing hitam. Ketika mengambil keputusan sering dilakukan dengan cara-cara yang tidak sehat, atau menyakitkan anggota keluarga yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s