Kesejahteraan 06.2 Komunikasi Suami dan Istri

on

Kita telah mempelajari betapa pentingnya komunikasi bagi manusia. Kita juga telah belajar bahwa ada 3 hal yang menghalangi kita untuk memiliki komunikasi yang berkualitas, yang terjadi sejak kejatuhan manusia dalam dosa, yaitu rasa takut, rasa malu dan rasa bersalah. Ketiga hal tersebut menyumbangkan kebiasaan buruk yang sering  kita lakukan dalam berhubungan dan berkomunikasi, yaitu:

  • Cenderung sering lari dan bersembunyi, dan menolak untuk berkomunikasi dengan benar
  • Cenderung menutup diri lewat pola-pola perlindungan yang biasa kita bangun
  • Cenderung menjadi agresif dan menyerang orang lain dengan pola komunikasi kita

Keharmonisan sebuah keluarga sangat didukung oleh komunikasi yang baik dari suami istri. Tidak heran bahwa riset dan statistik memperlihatkan bahwa penyebab utama perceraian, ataupun kegagalan sebuah rumah tangga, adalah dikarenakan gagalnya suami istri  berkomunikasi dengan baik. Untuk itu kita perlu belajar tips-tips komunikasi yang baik antara suami dan istri.

Beberapa prinsip dasar dalam komunikasi suami istri
Komunikasi adalah kebutuhan, dan alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Manusia adalah mahluk pribadi dan sekaligus sosial. Baik sebagai pribadi, maupun sebagai dalam hubungan sosial, ada kebutuhan mendasar yang perlu diisi lewat komunikasi. Kebutuhan itu adalah: rasa aman lahir batin, saling menghargai, saling berbagi, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, kebutuhan kenyamanan fisik, dan kebutuhan seksual
.
Komunikasi suami istri adalah sebuah proses menuju keintiman. Sewaktu berpacaran komunikasi dilakukan ketika kita ingin, namun ketika sudah menikah mau tidak mau, tepat atau tidak tepat kita akan berkomunikasi. Ketika bersatu sebagai suami istri, sebenarnya kita sedang berproses dalam hal-hal berikut:

  • Proses memahami satu sama lain
  • Proses menciptakan suatu lingkungan yang aman
  • Proses menyelesaikan masalah

Komunikasi suami istri adalah bentuk kasih. Tentu saja disini bukan hanya bersifat kata-kata semata, tetapi lebih dalam dari itu:

  • Kehadiran:
  • Mendengar: Mendengar yang baik adalah bukan sekedar mendengar dengan mata dan telinga tetapi juga mendengar dengan hati. Setiap orang memiliki karakter dalam mendengarkan, ada yang mendengar dengan acuh tak acuh, dan ada juga yang mendengar sampai empati. Yak 1:19  setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
  • Memberikan dukungan yang positif,  bisa lewat kata-kata yang memberi semangat, bisa juga lewat komunikasi non verbal, misalnya dengan memeluk, menepuk pundak dll.

Komunikasi suami istri adalah alat mencapai tujuan dan menyelesaikan masalah
Suami dan istri perlu memiliki tujuan bersama yang jelas. Untuk itu perlu ada waktu untuk berbagi aspirasi dan perasaan, sehingga tujuan bersama itu dapat didiskusikan.
Tidak penah ada dua orang yang benar-benar serupa. Selalu ada perbedaan latar belakang, pandangan, kepribadian atau pekerjaan sekali pun. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk menyatukan dua hal yang berbeda dalam hubungan seumur hidup. Pasti akan terjadi konflik dan gesekan, yang bisa terjadi dari suami istri sendiri, ataupun gesekan dari luar, yang memicu ketegangan dalam hubungan suami istri. Untuk itu komunikasi berperan sangat besar untuk membereskan masalah ini.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam komunikasi suami istri

  1. Tidak terbuka: suami istri perlu terbuka satu sama lain. Seberapa terbuka – seterbuka-terbukanya, walaupun cara dan waktu untuk terbuka perlu digumulkan juga. Dalam hal ini sering suami atau istri mengambil sikap berikut: (i) Takut – terutama takut akan penolakan, (ii) Merasa sungkan/gengsi untuk menyatakan isi hati, (iii) Tidak mau jujur/berbohong
  2. Berasumsi: Kita merasa tahu apa yang ada di dalam benak seseorang, dan mengambil keputusan berdasarkan perasaan tersebut. Dalam beberapa kasus, kita juga bukan sekedar berasumsi, namun telah jatuh dalam dosa menghakimi.
  3. Merasa paling benar, mencari kambing hitam: Ini adalah kebiasaan mencari penyebab masalah, dan bukannya mencari solusi suatu masalah.
  4. Mengungkit masalah lama: Sesuatu yang sudah dianggap selesai, hendaknya jangan diungkit lagi, kecuali kita tahu masih ada hal yang perlu dibereskan tentang hal tersebut.
  5. Menggeneralisasi, baik pendapat pribadi menjadi pendapat semua orang “semua orang tahu kamu tukang marah”, atau menggeneralisasi sebuah kelemahan “kamu orang yang selalu gagal”
  6. Menggunakan komunikasi yang buruk sebagai alat mencari solusi: misalnya menggunakan marah agar kemauan kita dituruti.
  7. Membandingkan: Setiap orang adalah pribadi yang unik, yang akan merasa tidak nyaman jika harus dibandingkan, apalagi dengan cara yang negatif dengan orang lain
  8. Membesar-besarkan masalah atau keadaan: Mungkin dengan cara-cara yang dramatis, mungkin juga dengan melihat masalah itu lebih besar dari kenyataannya
  9. Menggunakan bahasa negatif: yang cenderung melecehkan atau menghancurkan harga diri seseorang, dan bukannya kata-kata positif yang bisa membuat seseorang merasa dihargai dan didukung.

One Comment Add yours

  1. grahita mengatakan:

    Bagus banget pembahasannya. Kalau ingin lebih jauh mengenai hubungan suami istri ini, baca hasil penelitian yang telah kami lakukan tentang perceraian dan komunitas suami istri di : http://grahita.wordpress.com

    Salam dari,
    grahita indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s