Pembelajaran & Perubahan dengan paradigma MBA (Mengapa, Bagaimana, Apa – Why, How, What)

on

Belajar adalah suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku secara relatif permanen. Seseorang yang sedang dalam proses belajar akan memperlihatkan kemajuan dalam penguasaan satu atau lebih keterampilan yang sedang dipelajari. Misalnya seseorang sedang belajar naik sepeda, maka akan terlihat kemajuannya dalam menguasai keseimbangan, mengayuh pedal, menggerakkan pegangan ke arah yang ia mau dll. Pada awal pembelajaran ia akan terlihat kaku, canggung dan dan kesulitan menguasai aspek-aspek di atas. Semakin lama ia akan semakin terbiasa melakukan keterampilan yang baru – telah menjadi kebiasaan baru yang terlihat dalam kemudahannya mengendalikan sepeda. Dan jika ia mengembangkan terus kebiasaan yang baru ini, penguasaannya akan semakin meningkat dan ia menjadi seseorang yang trampil naik sepeda. Ini adalah cara sebagian besar orang mempelajari kebiasaan atau keterampilan baru, dengan cara mengulangi sesuatu yang sedang dipelajari sampai mendapatkan penguasaan. Practice makes perfect.

Hal ini adalah sebagian aspek pembelajaran yang lebih memusatkan pada aspek What To Do (Apa yang harus dilakukan). Dalam aspek ini, ketika seseorang belajar sesuatu yang baru, ia langsung mempraktekkan apa yang perlu dilakukan, dan kemudian mengulangnya sampai tahap penguasaan. Aspek What  ini biasanya sering dilakukan ketika mempelajari keterampilan baru karena relatif lebih mudah bagi kita untuk meniru apa yang orang lain lakukan, atau mencoba-coba sendiri secara otodidak. Artinya aspek What ini relatif lebih mudah dilakukan dan ditularkan pada orang lain.  Namun sebenarnya ada dua aspek lain yang juga perlu dipertimbangkan dalam mempelajari keterampilan baru.

Aspek How (Bagaimana melakukannya secara efektif) adalah bagaimana cara kita untuk meningkatkan kualitas atau penguasaan akan keterampilan tersebut. Dalam aspek ini kita mencoba menemukan sikap atau situasi yang paling menguntungkan untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Misalnya kembali dalam contoh bersepeda, bukan hanya belajar apa yang harus dilakukan untuk menghentikan laju sepeda (yakni dengan menekan rem), kita juga perlu belajar bagaimana mengerem yang baik (misalnya mempertimbangkan mengerem dengan rem depan atau belakang), karena ada situasi yang membutuhkan pengereman yang berbeda. Mempelajari How dengan baik jelas akan meningkatkan penguasaan akan suatu keterampilan yang baru.

Aspek Why (Mengapa melakukan yang kita lakukan) adalah motivasi kita untuk melakukan perubahan dan pembelajaran. Ini adalah hal-hal yang mendorong kita untuk melakukan apa yang kita lakukan. Semakin kuat kesadaran kita akan aspek Why ini akan semakin kuat juga kehendak dan dorongan untuk melakukan perubahan dan pembelajaran. Seseorang yang belajar bersepeda karena malu ditertawakan mungkin akan lebih kuat motivasinya daripada sekedar mencoba agar bisa.

Umumnya keterampilan baru bisa didapatkan dari dua jalur. Pertama dari jalur Mengapa & Bagaimana yang lebih bersifat teoritis dan abstrak. Inilah model pembelajaran yang sering diberikan di sekolah reguler. Atau dari jalur Apa & Mengapa yang lebih bersifat praktis dan berdasarkan pengalaman (eksperiental), yang umumnya kita lakukan dalam kehidupan nyata. Jalur pertama memiliki kelemahan kurang dalam praktek dan penerapan, sehingga meminimalkan penguasaan kita akan suatu keterampilan. Jalur kedua kuat dalam praktek, namun juga memiliki kelemahan akan pemahaman teoritis dan cara-cara meningkatkan keterampilan.

Mana yang lebih baik dari kedua metode ini? Secara pengalaman orang biasanya belajar lewat aspek Apa  dan Bagaimana. Namun ia kemudian berhenti tanpa mempertimbangkan Mengapa ia melakukan hal itu. Seorang penulis, Simon SInek berargumentasi bahwa orang-orang besar biasanya adalah mereka yang menemukan Mengapa dan mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Bagi saya apapun jalur yang kita ambil pastikan bahwa kita memahami ketiga aspek ini dan memberikan investasi yang relatif seimbang untuk belajar ketiga aspek ini. Apalagi jika keterampilan ini adalah sesuatu yang sangat mendasar dan penting bagi hidup kita. Bagaimana menurut anda?

2 Comments Add yours

  1. Jon A H Andung mengatakan:

    Jika kita hidup dalam ketaatan akan Tuhan, maka MBA membawa kita lebih berarti lingkungan dan di dalam Tuhan.

    1. paulpla mengatakan:

      trims pak Jon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s